Wednesday, March 14, 2007

Rejeki

Seorang pemuda nongkrong di poskamling.
Kemudian seorang penjual soto lewat di depannya.

Penjual soto: "Sotonya mas?"
Pemuda: "Boleh pak."

Selesai makan,

Pemuda: "Wah sotonya enak ya pak."
Penjual soto: "Mau nambah mas?"
Pemuda: "Boleh deh, kebeneran lagi laper."

Setelah habis, si pemuda menyerahkan mangkok ke si penjual soto.

Pemuda: "Ini mangkoknya pak, makasih ya."
Penjual soto: "Uangnya mas?"
Pemuda: "Boleh pak, bapak baik banget, kebeneran saya lagi nggak punya duit buat beli rokok."
Penjual soto: "???"

Sunday, March 11, 2007

Entrepreneur Wanted

Pilkada langsung akan diselenggarakan bulan Januari 2008, berarti dalam waktu kurang dari satu tahun lagi Kota Cirebon akan mempunyai walikota yang baru.

Bagaimana walikota yang dibutuhkan untuk bisa membawa Kota Cirebon menjadi lebih maju dan sejahtera? Apakah kriteria walikota yang bisa membuat perbaikan bagi masyarakat Kota Cirebon? Siapakah walikota yang bisa mengoptimalkan Kota Cirebon yang luasnya hanya sejengkal agar bisa mempunyai PAD yang tinggi?

Walikota yang bisa melakukan hal itu adalah entrepreneur / wirausahawan.


Kenapa harus wirausahawan?

Wirausahawan mempunyai kemampuan mengelola organisasi bisnis. Mereka mempunyai keterampilan mengelola sumber daya yang dimiliki dengan membuat sistem yang reliable. Dengan sistem yang baik mereka akan dapat membuat organisasi bisa survive dan berkembang menjadi besar. Mereka dapat mengelola manajemen dengan efektif dan efisien dan dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sumber daya yang ada dalam organisasi.

Wirausahawan merekrut orang-orang yang kompeten untuk menjalankan sistem yang ada dan menempatkan orang-orang tersebut sesuai dengan bidang keahliannya. Mereka mendelegasikan tanggung jawab kepada bawahannya sesuai porsi. Mengukur prestasi kerja karyawannya sesuai tanggung jawabnya. Memberikan reward dan kompensasi bagi mereka yang berprestasi serta memberikan punishment bagi karyawan yang melanggar aturan atau merugikan perusahaan. Mereka melakukan evaluasi terhadap kompetensi karyawannya. Mempertimbangkan untuk memberi kenaikan gaji, menaikkan pangkat, menurunkan gaji, menurunkan pangkat bahkan bila perlu memecat karyawan berdasarkan hasil evaluasi dan pertimbangan yang objektif terhadap mereka.

Wirausahawan selalu berorientasi kepada hasil. Mereka mempunyai intuisi yang tajam dalam memanfaatkan situasi agar bisa memberi keuntungan buat organisasi. Mereka dituntut untuk selalu meningkatkan profit. Mereka akan berusaha memperoleh pendapatan sebesar-besarnya dan menekan pengeluaran hingga sekecil-kecilnya. Setiap transaksi harus mempunyai tujuan yang jelas. Apakah digunakan untuk membiayai suatu proses pekerjaan yang akan dapat mendongkrak pendapatan atau digunakan untuk menambah asset yang akan menghasilkan pendapatan di masa yang akan datang. Kalau bukan digunakan untuk kedua-duanya maka transaksi tidak boleh dilakukan.

Wirausahawan selalu melakukan evaluasi terhadap kinerja organisasinya. Apakah target-target yang ditetapkan sudah dapat dicapai. Apabila belum, mereka akan menelaah faktor-faktor penyebabnya dan berusaha memperbaikinya. Sedangkan apabila target sudah dapat dicapai, mereka akan menetapkan target baru yang harus dicapai oleh organisasi mereka.

Wirausahawan mempunyai daya kreasi dan inovasi yang tinggi. Keberlanjutan hidup organisasi bisnis sangat bergantung pada kreatifitas dan inovasi. Kalau mereka tidak kreatif dan inovatif, maka mereka harus bersiap-siap menerima kehancuran bisnisnya. Mereka selalu mengikuti perkembangan trend dan mampu mengantisipasinya bagi keuntungan organisasi.

Wirausahawan selalu berorientasi kepada pasar. Mereka berusaha mengerti keinginan dan kebutuhan pelanggannya. Mereka berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan-pelanggannya. Mereka berusaha untuk menekan sekecil mungkin terjadinya complain dari pelanggan. Mereka bersaing dengan para pesaingnya untuk menarik hati para pelanggan. Bagi mereka, pelanggan adalah raja. Mereka sadar bahwa apabila raja mereka marah, maka mereka akan ditinggalkan dan matilah bisnis mereka. Bagi mereka kepuasan pelanggan adalah kepuasan mereka.


Kenapa tidak birokrat?

Birokrat hidup dalam sistem pemerintahan. Mereka mungkin sangat memahami apa yang ada dalam sistem. Mereka mengetahui keunggulan dan kelemahan yang ada dalam sistem. Tapi mereka seperti hidup dalam sebuah labirin. Mereka tidak mengetahui bagaimana memperbaiki apalagi mengoptimalkan sistem.

Birokrat terbiasa mengerjakan pekerjaannya sesuai tugas pokok dan fungsi yang sudah dibuatkan secara terperinci untuk mereka. Mereka hanya menjalani saja sesuai porsi mereka. Mereka sudah seperti suatu bagian dari sebuah mesin atau sebuah ban berjalan.

Birokrat selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Apakah keputusan yang akan mereka ambil bertentangan dengan aturan atau tidak. Kreatifitas mereka terbatasi dengan kehati-hatian mereka terhadap aturan. Mereka cenderung konservatif, dan cari aman serta tidak berani mengambil keputusan yang belum jelas aturannya walaupun mungkin keputusan yang akan diambil tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Karena konservatif itulah maka sulit bagi mereka untuk bisa kreatif. Mereka tidak terbiasa menggali peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan untuk kemajuan. Bahkan kalau misalnya pensiunan birokrat diberi uang pesangon sekaligus, tidak dicicil seperti sekarang, mungkin akan banyak dari mereka yang jatuh miskin setelah mereka pensiun. Karena mereka tidak mempunyai keterampilan bisnis untuk mengelola uang pesangon yang mereka terima.

Birokrat menggantungkan hidupnya dari gaji yang diterima dari pemerintah. Kalau gaji mereka terlambat diterima, sudah pasti mereka akan kelimpungan cari pinjam ke sana ke mari. SK akhirnya dijadikan sarana untuk dijaminkan ke bank. Dengan kondisi seperti ini dikhawatirkan mereka akan memanfaatkan kedudukan sebagai walikota sebagai lahan untuk mencari nafkah saja sedangkan pembangunan masyarakat terabaikan.

Birokrat sepertinya tidak tahu atau tidak mau tahu untuk siapa mereka bekerja, siapa yang menggaji mereka dan dari mana asal uang gaji yang mereka terima tiap bulan. Karena itu mereka tidak mempunyai tujuan yang jelas yang harus dicapai. Yang penting berangkat ke kantor, baca koran, mendisposisi surat-surat, memenuhi undangan-undangan ceremonial dan segera pulang setelah tiba waktunya pulang. Awal bulan berikutnya mereka terima gaji lagi. Mereka lupa bahwa mereka harus bertanggung jawab kepada masyarakat yang menggaji mereka.


Kenapa tidak aktivis atau kader partai?

Aktivis atau kader partai adalah orang-orang yang dibesarkan oleh suatu partai. Mereka biasanya sangat loyal pada partai yang membesarkan mereka. Sangat sulit bagi mereka untuk menghilangkan loyalitas kepada partainya dan beralih kepada loyalitas lain termasuk loyalitas kepada publik. Cara berpikir mereka sangat dipengaruhi oleh kebijakan partainya. Akibatnya ketika mereka menjadi walikota, kebijakan yang mereka ambil akan lebih didominasi oleh kepentingan partainya. Mereka mempunyai hutang budi yang begitu besar kepada partainya. Akhirnya ketika duduk sebagai walikota, mereka akan berupaya membalas jasa kepada partai yang telah membesarkannya.

Mungkin saja terjadi, ada aktivis atau kader partai yang duduk sebagai walikota kemudian membuat kebijakan untuk mengganti warna bangunan pemda, jalan, atau seragam pemda menjadi warna yang melambangkan warna partainya. Bisa jadi Balaikota Cirebon berubah menjadi warna pink seperti sedang merayakan valentine.

Aktivis atau kader partai yang duduk di kursi legislatif umumnya hanya bisa menyalahkan kebijakan-kebijakan eksekutif tetapi tidak tahu bagaimana mencari jalan keluarnya. Karena memang biasanya lebih mudah mencari kesalahan orang lain daripada mencarikan solusi untuk menyelesaikan permasalahan.


Kenapa tidak akademisi?

Akademisi sangat ahli dan menguasai teori. Mereka tahu langkah-langkah yang harus diambil untuk memperbaiki keadaan seperti kata teori yang mereka dapat. Tetapi mereka hanya sedikit mempunyai pengalaman praktis.

Akademisi cenderung menggurui orang untuk mengikuti pola pikir sesuai teori yang mereka anut.

Akademisi cenderung didominasi para ahli yang cuma bisa bicara tapi tidak mengerti praktek di lapangan.

Meneliti, mengamati, mempelajari dan mengajarkan sesuatu adalah hal yang sangat berbeda dengan praktek. Dalam praktek di lapangan sering ditemui hal-hal yang tidak sesuai dengan teori. Diperlukan kreativitas untuk menyelesaikan permasalahan yang tidak ada dalam buku teori.


Lalu wirausahawan yang bagaimana yang memenuhi syarat menjadi walikota?

Sebenarnya tidak semua wirausahawan mempunyai karakteristik di atas. Banyak wirausahawan yang mengelola bisnis warisan dari orang tuanya. Ada pula yang bisnisnya besar karena adanya fasilitas khusus dari birokrasi. Wirausahawan-wirausahawan seperti ini tentu saja tidak memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang jeli melihat peluang untuk memajukan Cirebon.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang bisa mengubah wilayah Argasunya yang masih belum tersentuh pembangunan menjadi wilayah yang produktif. Tidak sekedar sebagai alternatif wilayah pemukiman.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang mampu menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang mampu mengubah BUMD-BUMD yang biasanya merugi menjadi sumber-sumber pendapatan.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang bisa merubah RSUD Gunung Djati menjadi lebih profesional dalam memberikan pelayanan.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang bisa mengoptimalkan pelabuhan Cirebon agar bisa bermanfaat lebih banyak bagi masyarakat dan pemerintah daerah bukan hanya untuk pemerintah pusat.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang bisa memperbaiki sistem birokrasi yang sudah seperti benang kusut dan carut-marut agar lebih efisien dan efektif.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang mampu memajukan sistem pendidikan agar lebih terjangkau oleh masyarakat.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang mampu menyediakan pelayanan kesehatan yang memadai, layak dan manusiawi bagi masyarakat.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang mampu mempromosikan Kota Cirebon dan mampu menarik minat investor untuk berinvestasi di Kota Cirebon.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang akan selalu menggali kemungkinan-kemungkinan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan PAD Kota Cirebon.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang mampu menambal kebocoran-kebocoran penerimaan daerah dan mampu mencegah kebocoran dalam pengeluaran-pengeluaran daerah.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang tidak menggantungkan hidupnya dari jabatannya sebagai walikota.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang mempunyai komitmen yang kuat untuk habis-habisan dalam berusaha memajukan Kota Cirebon.

Wirausahawan yang memenuhi syarat menjadi Walikota Cirebon adalah yang sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Dengan demikian dia akan selalu berusaha berbuat kebaikan dan takut untuk berbuat kesalahan.

Apakah anda termasuk wirausahawan yang mampu melakukan hal tersebut? Kalau ya maka andalah yang dicari-cari oleh masyarakat Kota Cirebon.

Wirausahawan-wirausahawan yang mempunyai kemampuan untuk memajukan Kota Cirebon dan mempunyai tekad untuk memberikan atau menyumbangkan segala kemampuannya untuk Kota Cirebon mungkin akan kesulitan untuk bisa ikut dalam ajang pemilihan walikota karena tidak mempunyai kendaraan yang mendukungnya.

Oleh karena itu mereka harus masuk atau mendapatkan dukungan dari salah satu partai. Namun mereka perlu hati-hati memilih partai sebagai kendaraannya. Karena kalau salah memilih bisa jadi mereka akan diperas dan dimanfaatkan oleh partai tersebut. Pilihlah partai yang bersih, lurus dan mempunyai komitmen yang jelas untuk kemajuan masyarakat Kota Cirebon. Insya Allah masih ada kok partai yang seperti itu.

Wallahu’alam.